Pada Agustus 2024, ratusan ekskavator bergerak masuk ke kawasan rawa di Kabupaten Merauke. Bukan untuk membangun bendungan atau jalan tol — melainkan untuk menggali gambut Papua demi mewujudkan ambisi yang pernah gagal dua dekade sebelumnya: menjadikan lahan basah tropis Papua sebagai lumbung pangan nasional.
Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate Merauke adalah taruhan besar. Target resmi: 1 juta hektare padi, 2 juta hektare tebu untuk bioetanol, total hingga 3 juta hektare ekosistem alami yang berpotensi dikonversi. Yang berdiri di jalan ambisi itu: gambut dalam, rawa Melaleuca, hutan dataran rendah, dan masyarakat adat Yei, Malind, Maklew, serta Khimaima yang belum pernah dimintai persetujuannya.
"Tanah ini bukan tanah kosong. Kami hidup dari sini selama ratusan generasi," kata salah satu tokoh masyarakat Malind kepada Nusantara Atlas.
Tiga Jaringan Korporasi, Satu Koridor
Data satelit Nusantara Atlas (periode Januari 2024–Juni 2025) mengidentifikasi tiga kelompok korporasi sebagai aktor utama pembukaan lahan di Papua Selatan.
Jhonlin Group membuka 6.431 hektare hutan rawa Melaleuca untuk pembangunan jalan PSN sepanjang 40 kilometer — dari total 135 km yang direncanakan. Jalan ini dirancang sebagai tulang punggung koridor timur-barat yang akan membuka akses ke kawasan hutan yang sebelumnya terisolasi.
Grup Fangiono / First Resources mengoperasikan dua konsesi tebu raksasa: - PT Global Papua Abadi (GPA): konsesi 50.000 ha, telah membuka 11.751 ha (4.404 ha hutan primer + 7.347 ha sabana berkayu) - PT Murni Nusantara Mandiri (MNM): konsesi 52.000 ha, membuka 1.340 ha
Korindo Group melalui PT Dongin Prabhawa (DP) menjalankan konsesi HGU sawit 37.000 ha di Merauke dan membuka 538 hektare hutan primer dalam periode yang sama.
Ketiganya beroperasi dalam zona yang sebelumnya dilindungi oleh keterpencilan geografis — perlindungan yang kini terancam oleh jalan PSN.
Lahan yang Tidak Bisa Ditanami
Di balik klaim panen perdana padi pada Mei 2025 — di atas lahan empat hektare di Wanam/Wogikel — terdapat persoalan mendasar yang tidak bisa diselesaikan dengan ekskavator.
Tanah Merauke bukan tanah sawah. Lahan basah Melaleuca memiliki keasaman tinggi, kandungan gambut yang tidak stabil, dan rejim kebakaran musiman yang berulang saat El Niño. Kesuburan residual dari pembukaan hutan akan menurun tajam setelah beberapa musim tanam. Proyek-proyek serupa di ekosistem gambut tropis — dari eks-PLG Kalimantan hingga proyek Merauke sebelumnya di era MIFEE (2010-an) — telah gagal secara konsisten.
"Ini bukan soal teknologi. Ini soal tanah yang memang tidak dirancang oleh alam untuk menjadi sawah," kata peneliti dari Nusantara Atlas.
Kawasan Lindung di Ambang Pintu
Yang membuat situasi ini kritis adalah kedekatan koridor PSN dengan kawasan-kawasan yang secara hukum dilindungi:
- Danau Bian Nature Reserve — berada dalam zona ring penyangga PSN
- Bupul Nature Reserve — terancam oleh ekspansi konsesi di sekitarnya
- Taman Nasional Wasur — salah satu lahan basah terbesar di Indonesia, masuk dalam radius 20 km dari infrastruktur yang direncanakan
Saat jalan PSN 135 km terhubung ke Trans-Papua Highway dan MIFEE Highway (persimpangan di KM 60), kawasan hutan yang selama ini terlindungi oleh isolasi geografis akan kehilangan perlindungan terakhirnya.
Papua Tengah: Tambang di Atas Tanah Adat
Di sisi utara, Papua Tengah menghadapi tekanan berbeda namun tak kalah berat. Kabupaten Mimika menjadi simbol paling telanjang dari paradoks sumber daya: di sini terletak Grasberg, tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.
Kontrak Karya PT Freeport Indonesia mencakup 212.000 hektare tanah adat Amungme dan Kamoro. Inalum (negara) menguasai 51%, Freeport-McMoRan (AS) 48,76%. Masyarakat adat pemilik tanah ulayat: 1% royalti dari kontrak baru.
Di Intan Jaya, deforestasi terjadi bersamaan dengan operasi militer aktif. Pembukaan lahan oleh warga yang mengungsi dan aktivitas di zona konflik membuat data kehilangan hutan di sini sangat sulit diverifikasi dari luar.
Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Data Nusantara Atlas menunjukkan akselerasi yang mengkhawatirkan:
- Kehilangan hutan primer Papua 2024: 25.300 hektare (naik 10% dari 2023)
- PSN Merauke saja menyumbang 24% dari total kehilangan hutan primer Papua 2024
- Separuh pertama 2025: kehilangan akibat sawit sudah menyamai seluruh 2024
- Total ekosistem yang dibersihkan dalam koridor PSN Jan 2024–Jun 2025: 22.272 hektare
Tanpa perubahan arah kebijakan, Indonesia berisiko melewatkan komitmen net-zero 2030 yang telah diumumkan ke dunia.
Cara Menggunakan Peta
Peta Papua #ExtractiveZone menampilkan:
- Deforestasi 2024–2025 — poligon warna berdasarkan keparahan, dilengkapi nama perusahaan/aktor dan keterangan berdasarkan Nusantara Atlas
- Bencana Hidromet 2025 — titik biru berdasarkan jumlah korban dan pengungsi
- Konsesi & Izin — lapisan tambang, HGU perkebunan, HPH/HTI, dan PBPH dari Simontini.id (Auriga Nusantara)
Klik setiap poligon untuk melihat detail aktor, luas konsesi, dan catatan lapangan.
Sumber Data Utama
Nusantara Atlas — "Farming the Unfarmable: The High-Stakes Gamble in Papua's Wetlands" (2025). Data spasial: analisis satelit Sentinel-2 periode Jan 2024–Jun 2025. Investigasi perusahaan: Pusaka Bentala Rakyat. Konsesi: Simontini.id (Auriga Nusantara), CC-BY-SA.