#ExtractiveZoneSeri Investigasi Spasial · Edisi 01 · Papua Selatan 2024–2025

Jelajahi Peta Papua

22.272 hektare ekosistem dibuka dalam 18 bulan. Data spasial interaktif deforestasi, konsesi korporasi, dan narasi wilayah adat Papua Selatan — dari citra satelit hingga catatan lapangan.

22.272 ha
Dibuka Jan 2024–Jun 2025
135 km
Jalan militer menembus hutan adat
12 konsesi
Tebu di wilayah Marind-Anim
4 narasi
Chapter spasial interaktif
Jelajahi Peta Papua →Data: Nusantara Atlas 2025 · STADI · Simontini.id
← #ExtractiveZone
Extractive Zone
Edisi 01 — Papua Selatan
Edisi 01
PSN Food Estate · Merauke 2024–2025

Menambang Lahan yang Tak Bisa Ditanami: Taruhan Besar di Rawa Papua

Investigasi spasial atas PSN Food Estate Merauke — 22.272 hektare ekosistem yang dibuka dalam 18 bulan oleh Jhonlin, Fangiono, dan Korindo, di atas gambut yang menurut sains tidak bisa dijadikan sawah.

22.272 haDibuka Jan 2024–Jun 2025
3 konglomeratJhonlin · Fangiono · Korindo
3 juta haTarget ekosistem PSN
4 masyarakat adatYei · Malind · Maklew · Khimaima
Buka Peta Papua →Data: Nusantara Atlas 2025 · Papua Selatan + Papua Tengah

Pada Agustus 2024, ratusan ekskavator bergerak masuk ke kawasan rawa di Kabupaten Merauke. Bukan untuk membangun bendungan atau jalan tol — melainkan untuk menggali gambut Papua demi mewujudkan ambisi yang pernah gagal dua dekade sebelumnya: menjadikan lahan basah tropis Papua sebagai lumbung pangan nasional.

Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate Merauke adalah taruhan besar. Target resmi: 1 juta hektare padi, 2 juta hektare tebu untuk bioetanol, total hingga 3 juta hektare ekosistem alami yang berpotensi dikonversi. Yang berdiri di jalan ambisi itu: gambut dalam, rawa Melaleuca, hutan dataran rendah, dan masyarakat adat Yei, Malind, Maklew, serta Khimaima yang belum pernah dimintai persetujuannya.

"Tanah ini bukan tanah kosong. Kami hidup dari sini selama ratusan generasi," kata salah satu tokoh masyarakat Malind kepada Nusantara Atlas.

Tiga Jaringan Korporasi, Satu Koridor

Data satelit Nusantara Atlas (periode Januari 2024–Juni 2025) mengidentifikasi tiga kelompok korporasi sebagai aktor utama pembukaan lahan di Papua Selatan.

Jhonlin Group membuka 6.431 hektare hutan rawa Melaleuca untuk pembangunan jalan PSN sepanjang 40 kilometer — dari total 135 km yang direncanakan. Jalan ini dirancang sebagai tulang punggung koridor timur-barat yang akan membuka akses ke kawasan hutan yang sebelumnya terisolasi.

Grup Fangiono / First Resources mengoperasikan dua konsesi tebu raksasa: - PT Global Papua Abadi (GPA): konsesi 50.000 ha, telah membuka 11.751 ha (4.404 ha hutan primer + 7.347 ha sabana berkayu) - PT Murni Nusantara Mandiri (MNM): konsesi 52.000 ha, membuka 1.340 ha

Korindo Group melalui PT Dongin Prabhawa (DP) menjalankan konsesi HGU sawit 37.000 ha di Merauke dan membuka 538 hektare hutan primer dalam periode yang sama.

Ketiganya beroperasi dalam zona yang sebelumnya dilindungi oleh keterpencilan geografis — perlindungan yang kini terancam oleh jalan PSN.

Lahan yang Tidak Bisa Ditanami

Di balik klaim panen perdana padi pada Mei 2025 — di atas lahan empat hektare di Wanam/Wogikel — terdapat persoalan mendasar yang tidak bisa diselesaikan dengan ekskavator.

Tanah Merauke bukan tanah sawah. Lahan basah Melaleuca memiliki keasaman tinggi, kandungan gambut yang tidak stabil, dan rejim kebakaran musiman yang berulang saat El Niño. Kesuburan residual dari pembukaan hutan akan menurun tajam setelah beberapa musim tanam. Proyek-proyek serupa di ekosistem gambut tropis — dari eks-PLG Kalimantan hingga proyek Merauke sebelumnya di era MIFEE (2010-an) — telah gagal secara konsisten.

"Ini bukan soal teknologi. Ini soal tanah yang memang tidak dirancang oleh alam untuk menjadi sawah," kata peneliti dari Nusantara Atlas.

Kawasan Lindung di Ambang Pintu

Yang membuat situasi ini kritis adalah kedekatan koridor PSN dengan kawasan-kawasan yang secara hukum dilindungi:

Saat jalan PSN 135 km terhubung ke Trans-Papua Highway dan MIFEE Highway (persimpangan di KM 60), kawasan hutan yang selama ini terlindungi oleh isolasi geografis akan kehilangan perlindungan terakhirnya.

Papua Tengah: Tambang di Atas Tanah Adat

Di sisi utara, Papua Tengah menghadapi tekanan berbeda namun tak kalah berat. Kabupaten Mimika menjadi simbol paling telanjang dari paradoks sumber daya: di sini terletak Grasberg, tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.

Kontrak Karya PT Freeport Indonesia mencakup 212.000 hektare tanah adat Amungme dan Kamoro. Inalum (negara) menguasai 51%, Freeport-McMoRan (AS) 48,76%. Masyarakat adat pemilik tanah ulayat: 1% royalti dari kontrak baru.

Di Intan Jaya, deforestasi terjadi bersamaan dengan operasi militer aktif. Pembukaan lahan oleh warga yang mengungsi dan aktivitas di zona konflik membuat data kehilangan hutan di sini sangat sulit diverifikasi dari luar.

Angka yang Tidak Bisa Diabaikan

Data Nusantara Atlas menunjukkan akselerasi yang mengkhawatirkan:

Tanpa perubahan arah kebijakan, Indonesia berisiko melewatkan komitmen net-zero 2030 yang telah diumumkan ke dunia.

Cara Menggunakan Peta

Peta Papua #ExtractiveZone menampilkan:

  1. Deforestasi 2024–2025 — poligon warna berdasarkan keparahan, dilengkapi nama perusahaan/aktor dan keterangan berdasarkan Nusantara Atlas
  2. Bencana Hidromet 2025 — titik biru berdasarkan jumlah korban dan pengungsi
  3. Konsesi & Izin — lapisan tambang, HGU perkebunan, HPH/HTI, dan PBPH dari Simontini.id (Auriga Nusantara)

Klik setiap poligon untuk melihat detail aktor, luas konsesi, dan catatan lapangan.

Sumber Data Utama

Nusantara Atlas — "Farming the Unfarmable: The High-Stakes Gamble in Papua's Wetlands" (2025). Data spasial: analisis satelit Sentinel-2 periode Jan 2024–Jun 2025. Investigasi perusahaan: Pusaka Bentala Rakyat. Konsesi: Simontini.id (Auriga Nusantara), CC-BY-SA.

Jelajahi Peta Papua

Klik setiap poligon untuk melihat nama perusahaan, luas konsesi, dan catatan lapangan dari Nusantara Atlas 2025.

Buka Peta →

Selanjutnya dalam #ExtractiveZone →

Extractive Zone
Edisi 01 — Papua Selatan
Edisi 02 · Segera Hadir

Nikel Morowali: Sungai yang Mengering

Dampak sosial-ekologis ekspansi nikel di Sulawesi Tengah dan jaringan aktor di balik konsesi HPAL.

Extractive Zone
Edisi 01 — Papua Selatan
Edisi 03 · Segera Hadir

Batubara Kalimantan: Jejak Limbah di DAS Mahakam

Dampak tambang batubara terhadap komunitas Dayak dan ekosistem sungai terpanjang di Kalimantan.